Lee Hae-Jin – Pendiri LINE

Lee Hae Jin mendirikan Naver.com pada tahun 1999. Sejak itu, ia berhasil mengantarkan Naver menjadi search engine terpopuler di Korea Selatan. Berkat Naver, Korea Selatan adalah satu di antara beberapa negara, termasuk Rusia dan Tiongkok, yang tidak didominasi oleh Google. Belum puas, kini Lee nyebur ke dunia instant messaging dengan sebuah app yang tentu sudah Anda kenaLINE FerlyFRl.

Lee Hae Jin, adalah seorang kaum terpelajar lulusan sains dan teknologi dengan masa depan yang cerah di Samsung Group. Akan tetapi, Lee kemudian memutuskan untuk menanggalkan karirnya di perusahaan terbesar di Korea Selatan itu untuk mendirikan Naver, dan beberapa tahun kemudian meluncurkan Line. Ternyata, langkah ini kemudian jadi langkah terbaik dalam hidupnya. Dalam waktu 4 tahun, Line berhasil mendominasi Jepang, Thailand, dan Indonesia.

Line berhasil mengumpulkan hingga US$6,38 juta pada triwulan pertama tahun 2014. Selain itu, terutama karena 80% pembelian datangnya dari Jepang, model ini kabarnya membuat Softbank, sebuah perusahaan telekomunikasi Jepang, tertarik untuk berinvestasi di Line. Kabar ini membuat nilai saham Naver melonjak, yang mana berujung pada kekayaan Lee yang berlipat ganda.

Para pakar keuangan memastikan kekayaan Lee berasal dari pertumbuhan dari pengguna Line, yang saat ini telah melampaui 300 juta pengguna di seluruh dunia.

Kini, kekayaan Lee Hae Jin diperkirakan mencapai angka sekitar $1.1 miliar. Kesuksesan Lee ini cukup menakjubkan mengingat perekonomian digital Korea Selatan masih didominasi oleh konglomerat. Belum ada cukup banyak model bisnis startup yang sukses di sana. Namun toh, Lee bisa membuktikan bahwa tanpa dukungan iklim yang baik pun, selama Anda memiliki keyakinan bahwa Anda bisa, Anda bisa mencapai kesuksesan dengan startup Anda.

Johnny Andrean – Owner J.CO Donut & Coffee

J.Co Donut & Coffee didirikan oleh salah seorang pengusaha salon asli Indonesia bernama Johnny Andrean. Ide untuk mendirikan J.Co Donut & Coffee berawal dari kebiasaan Johnny yang sering melakukan perjalanan bisnis ke Amerika Serikat.

Dari ide bisnis donat tersebut, awalnya Johnny berniat untuk menjalin kerjasama dengan waralaba donat asli Amerika. Namun ternyata harapan tersebut tak jadi diwujudkan karena adanya keterbatasan seputar varian produk dan proses pemantauan kualitas. Akhirnya Johnny Andrean memutuskan untuk memulai bisnis donatnya secara independen.

Proses pengembangan ide dan inovasi J.Co Donut & Coffee berlangsung dalam waktu yang lama, kurang lebih sekitar 3 tahun sebelum gerai pertamanya dibuka. Dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, Johnny berusaha melakukan riset, survey pasar dan sampling mengenai produk donat seperti apa yang diinginkan oleh masyarakat Indonesia.
Johnny Andrean JCO FerlyFR 2
Kala mengumpulkan riset mengenai gerai donat modern, Johnny juga menemukan fakta bahwa belum ada 1 pun gerai donat di Indonesia yang memiliki konsep open kitchen. Hal ini membuat Johnny ingin mengusung konsep open kitchen agar para pelanggan dapat menyaksikan langsung proses pembuatan donat yang higienis.

Setelah melalui serangkaian proses panjang untuk mematangkan konsep bisnisnya, akhirnya pada 26 Juni 2005 gerai J.Co Donut & Coffee yang pertama resmi di buka di kawasan Supermal Karawaci, Tangerang. Ternyata konsep bisnis gerai donat modern ini mampu menarik perhatian dan minat masyarakat.

Keberhasilan J.Co Donut & Coffee kemudian mengiringi pembukaan gerai-gerai J.Co Donut & Coffee di daerah lainnya. Dalam waktu 1 tahun saja, J.Co Donut & Coffee sudah berhasil membuka 16 gerai dengan jumlah karyawan gerai mencapai 450 orang.

Pada tahun 2007, J.Co Donut & Coffee bahkan sudah mengupayakan go internasional dengan beberapa negara tujuan seperti Singapura, Australia dan Hongkong.

Yukka Harlanda – Owner Brand Brodo Footwear

Lulusan Teknik Sipil salah satu unversitas di Bandung ini berhasil membuat brand sepatu melalu media online, Brodo.

Saat itu Yukka masih menjadi mahasiswa. Pertama kali membuat sepatu berjumlah lima pasang di Cibaduyut. Pasar pertamanya dilakukan kepada teman-teman di kampusnya.

Dirinya pun memulai bisnis tersebut bersama dengan dua temannya bermodal uang senilai Rp1.000.000. Dengan modal tersebut, bisnisnya terus berjalan dengan terus memutar modal dan pendapatannya.

MenuYukka Harlanda - Owner Brand Brodo Footwear 2rutnya untuk orang yang baru mau memulai bisnisnya tidak salahnya jika memanfaatkan media online.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Yukka sempat berhenti dari bisnisnya dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Namun, dirinya tak bisa pindah dari bisnisnya yang telah dikembangkan.

Dirinya pun melanjutkan bisnis tersebut, hingga permintaan Sepatu Brodo melalui media online meningkat. Tak puas dari itu, dirinya mulai mendistribusikan sepatu-sepatunya ke distribution outlet (distro).

Kunci sukses Yukka bisa mengembangkan bisnisnya dalam kurun waktu 3 tahun adalah memperlakukan customer layaknya teman.
Saat ini, Yukka sudah memiliki 75 karyawan baik yang bekerja full time maupun yang paruh waktu.

Sepatu Brodo sempat mendapat permintaan dari Jepang dan Amerika Serikat. Namun menurut Yukka prosesnya yang rumit membuat Ia menutup permintaan dari luar negeri.

Semangat Eddy William Katuari Memimpin Wings

Eddy William Katuari WingsPerusahaan Wings pertama kali didirikan oleh Johannes Ferdinand Katuari dan Harjo Sutanto dan berawal dari industri rumahan. Kini Wings sudah menjadi perusahaan yang sangat berpengaruh di Indonesia dan bukan hanya sabun saja yang ditawarkan oleh perusahaan ini, namun juga bahan makanan, alat kebersihan, minuman, dan masih banyak yang lainnya. Eddy William Katuari merupakan pemimpin perusahaan Wings yang terbaru. Perusahaan Wings ini sudah mulai berkembang di sektor kelapa sawit, real estate, bahkan hingga ke Bank.

Eddy William Katuari adalah anak dari pendiri perusahaan Wings yaitu Johannes Ferdinand Katuari yang kini sudah semakin senja. Eddy dalam mengurus bisnisnya tersebut juga dibantu oleh anak dari Harjo Sutanto yang juga merupakan pendiri Wings Group.

Eddy William Katuari dalam membangun perusahaan yang diwariskannya ini membuahkan hasil yang cukup bagus. Wings Group berhasil menjadi perusahaan consumer di Indonesia yang hampir menyaingi perusahaan multinasional yaitu PT Unilever Indonesia. Ini merupakan sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi Wings dan Eddy William Katuari dan saudaranya yang lain.

Produk yang dihasilkan oleh perusahaan Wings ini sudah diekspor hingga ke Negara di Afrika. Produk yang paling mereka andalkan adalah produk sabun seperti So Klin, Daia, Giv, dan Nuvo yang bisa ditemukan di negara-negara Afrika dan Asia Tenggara.

Perusahaan Wings ini mungkin belum pernah mengalami kemunduran yang sangat drastis. Kebanyakan perusahaan di Indonesia mengalami kemerosotan pada tahun 1997 sampai dengan tahun 1998 dikarenakan terjadi krisis ekonomi. Penyebab dari kemunduran atau bahkan kebangkrutan perusahaan tersebut adalah dikarenakan hutang. Namun perusahaan Wings tidak memiliki hutang sehingga bisa bertahan di saat terjadi krisis ekonomi.

Keberhasilan *Eddy William* dan saudaranya dalam membangun perusahaan Wings membuat beliau menjadi bagian deretan orang kaya di Indonesia. Pada tahun 2008 yang lalu, Globe Asia memprediksikan kekayaan Eddy William Katuari mencapai 1,21 milyar dollar Amerika Serikat dan berada di urutan ke-8 orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2010 yang lalu, majalah Forbes mengumumkan daftar orang terkaya di Indonesia dan posisi Eddy William Katuari berada di posisi ke-12. Sedangkan pada tahun 2011 posisi beliau turun menjadi ke posisi 21 versi majalah Forbes.